Patah hati itu diibaratkan sebagai obat yang luar biasa pahit.
Dan kau ibarat seorang anak kecil berusia 3 tahun yang harus menelannya.
Walaupun telah berhasil menelannya, tapi kepahitannya tetap terasa,
sehingga kau harus mendorongnya dengan air sebanyak-banyaknya sampai kau merasa mual,
lalu memuntahkannya.
Obat itu akan keluar kembali dengan seluruh isi perutmu.
Ibumu akan marah-marah dan kau hanya bisa menangis meraung-raung.
Itulah patah hati.
Walau dia sudah berlalu dan tidak terlihat,
tetapi pahitnya tetap terasa.
Saat kau paksa dia hilang dari ingatanmu untuk selamanya,
dia justru muncul ke permukaan.
Aku tau, aku gadis kecil yang harus minum obat pahit itu.
Tapi aku tidak akan melakukan kesalahan dengan memuntahkan obat itu kembali.
Aku hanya perlu madu atau sesuatu yang manis pada saat aku harus menelan obat pahit tersebut.
Aku akan memasukkan mereka secara bersamaan dalam mulutku supaya pahitnya hanya terasa sesaat.
Jadi, yang bisa kulakukan hanyalah mengenang saat-saat menyenangkan yang pernah kurasakan dan mencoba untuk bersyukur karena aku telah diizinkan Tuhan untuk menikmati saat-saat menyenangkan itu.
Itulah maduku. :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar